|
“Sstt…. Aku punya dagangan nih. Mau lihat nggak?” Mira tampak malu-malu membisikkan tawarannya ke telingaku. Tangannya menyodorkan sebuah tas kantong plastik besar berwarna hitam.
“Dagangan apa?” Aku bertanya sambil melongokkan kepalaku, mengintip isi kantong plastik besar yang ada di tangannya. Kedua tangan Mira spontan
membuka mulut kantong lebar-lebar hingga tumpukan beberapa dagangannya terlihat lebih jelas.
“Baju Muslim. Bagus-bagus deh, lagian murah-murah kok. Bisa dicicil lagi.” Ujarnya sambil malu-malu. Kulirik wajahnya dan dia tahu jika aku melirik wajahnya sehingga rona merah jambu langsung menghiasi wajahnya yang putih. Tangannya yang selalu menggenggam saputangan langsung membawa saputangan tersebut menutupi mulut dan daerah disekitar hidungnya.
“Duh, jangan melihatku seperti itu dong. Malu nih.” Katanya dengan sedikit gemetar. Aku tersenyum. Temanku ini memang sangatlah pemalu. Wajahnya manis, kalimat yang dia ucapkan juga selalu santun. Tapi sifat pemalunya itu selalu melekat erat dalam kesehariannya. Entahlah, apakah ada yang sudah tahu berapa jumlah gigi yang berderet di dalam mulutnya. Rasanya belum ada yang berhasil menebaknya karena memang jika berbicara dia selalu menutupi mulut dan daerah sekitar hidungnya dengan saputangan. Koleksi saputangannya lumayan banyak. Hampir tiap hari aku lihat dia mengganti corak saputangannya. Bisa jadi jika saat ini seluruh pabrik saputangan di Indonesia terbakar habis, mungkin Mira adalah wanita yang paling kencang tangisan tanda turut merasa kehilangannya.
“Waduh ini orang. Kalau dagang nggak boleh malu lagi.” Aku menggodanya dan dia langsung tersenyum sambil menunduk.
Wajahnya kembali bersemu merah dan spontan saputangan di tangannya menutupi sebagian wajahnya. Aih.
|